Backpacker ke Yogyakarta dari Surabaya

Sabtu, Juni 21, 2014 3
Yuhuuu... selamat berjumpa lagi...
Akhirnya saya punya mood juga untuk nulis pengalaman mbolang pertama di tahun 2014 ini..
Sebenarnya perjalanan ini udah sejak akhir mei kemarin sih, saat liburan panjang (29 Mei -1 juni 2014). Tapi baru ditulis sekarang, nggak apa2 masih nggak terlalu basi kok ceritanya, kan belum ada satu bulan hehehe..
Saat pertengahan april salah satu teman saya woro-woro melalui grup facebook angkatan buat ngajak ke jogja. Saya yang emang seorang pengangguran berduit tidak menyiakan kesempatan ini, dan langsung menghubungi dia. Special thanks to Iko yang udah berinisiatif ngadakan perjalanan ini, dan mau direpoti dengan membeli tiket kereta PP Surabaya-Jogja.

Awalnya kami berniat untuk meninap full di kos teman yang sedang lanjut S2 di UGM. Tapi setelah dipikir-pikirnya nggak enak juga takut banyak merepotkan. Akhirnya kami bertiga (saya, Iko, dan Hernita) membahas langsung dengan, ngumpul di toko saya satelah mereka pulang kerja, 2 minggu sebelum hari H. Karena selama ini kami hanya berkomunikasi via BBM dan WA.

Kami memutuskan untuk tetap menyewa penginapan dengan pertimbangan biar deket dari stasiun Tugu kalau mau balik ke Surabaya. Mulai membagi tugas, saya kebagian untuk mencari penginapan, dengan referensi hotel CERIA dari teman saya yang habis honeymoon di Jogja. Keesokannya saya mulai minta bantuan google untuk mencari penginapan murah, salah satunya membaca referensi dari kaskus berdasarkan pengalaman para kaskuser. Ada beberapa hotel yang saya incar daerah Sosrowidjan (terkenal dengan banyak penginapan murah meriah). dan meminta Indah (teman yang di Jogja) untuk mengecek kondisi hotel tersebut. Disamping itu saya juga menelpon satu-persatu hotel yang masuk di kantong kami, ternyata rata-rata pada full. Saya baru sadar kalau kita liburan disaat peak season, otomatis banyak penginapan yang penuh.  Akhirnya saya menyerah dan minta bantuan si Indah untuk mencarikan penginapan untuk kami. Tak lupa saya minta pendapat indah tentang hotel CERIA, yang ternyata cukup jauh dari stasiun, padahal waktu itu hanya hotel CERIA yang ready kamar kosong plus dapat sarapan pula. L

Siangnya Indah langsung mengecek hotel-hotel yang jadi incaran saya, dan beruntungnya masih ada 1 kamar kosong di Indonesia Hotel. Padahal sebelumnya saya telepon katanya sudah penuh loh.. Informasi dari Indah, Indonesia hotel ini tidak menerima booking lewat telepon dan harus DP untuk tanda jadi dan nggak bisa di transfer. Sekedar tips aja sebaiknya buat kamu yang nyari penginapan murah di sosrowidjan minta bantuan teman atau sodara yang tinggal di Jogja. Soalnya rata-rata banyak penginapan disana nggak terima booking lewat telepon. Atau kalau nggak punya kenalan, silahkan kunjungi link kaskus INI untuk minta bantuan salah satu agan kaskuser yang tinggal di Jogja. Masalah fee jasa bisa langsung tanya orangnya.

Harga penginapan di Indonesia Hotel Jogjakarta
Masalah tiket dan  penginapan beres, tapi masalah uang saku ini yang bikin saya lumayan puyeng. Sebagai seorang pengangguran sukses (wiraswasta), pendapatan saya selalu naik turun. Dan kebetulan turunnya disaat menjelang liburan. Sempat terpikir untuk cancel tapi sayang banget udah beli tiket :’( . Eh… 2 hari sebelum berangkat tiba-tiba ada transferan yang teramat sangat cukup untuk liburan dari customer yang minta dibelikan barang dari luar negeri. Yang namanya rezeki emang datang nggak disangka-sangka :D Saya pun menggunakan uang customer saya dulu. Tapi tenang, saya sudah orderkan barang pesanan dia kok :D (semoga customer saya tidak membaca tulisan ini hehehe..)

Sadar kalau uang liburan adalah hasil dari hutang, maka saya menyiapkan amunisi yang lumayan banyak di Jogja. Aslinya saya ini tipe praktis bin simple kalau jalan2, tapi gara-gara ini saya harus membawa tas ransel dan tas jinjing yang isi dari tas jinjing ini sebagian besar adalah bahan logistic, air mineral 2 botol besar (1500ml), aneka cemilan, kering tempe (request ke ibu saya). Dan itu semua secara gratis karena saya membajak dari toko orang tua saya :D (lumayan menghematlah karena selama di jogja saya nggak beli camilan n minuman blas). Saat cerita kalau isi tas jinjing ini bahan logistic selama di Jogja kedua teman saya keheranan. Semoga kamu mengerti penderitaan ini teman (Inoko, Hernita, Indah) setelah membaca tulisan ini, alasan kenapa merepotkan diri membawa tas jinjing itu :D

Liburan di Jogja ini saya menemukan tiga fenomena “ternyata dunia ini sempit sekali”. Kejadian pertama di stasiun saya ketemu adik angkatan yang kayaknya juga mau liburan ke Jogja bareng ortunya. Kejadian selanjutnya, saat antri naik ke gerbong kereta saya liat teman angkatan beda jurusan (dia anak politik 08 dan lumayan lebay menurut saya, karena saya pernah sekelas dengan dia). Kami bertiga berusaha menghindari anak itu dan semoga tidak satu gerbong, eh nggak disangka ternyata dia dan teman-temannya, duduk pas didepan bangku kita :D dan ada satu kejadian lagi yang akan saya sebutkan di akhir tulisan ini.

6 jam berlalu (kereta datang telat karena sempat berhenti lama), keluar dari stasiun arah malioboro, kami disambut dengan cuaca Jogja yang panas menyengat puffhh #nyekakeringat. Segera kami mencari taksi dan minta diantar ke daerah deresan 1, ongkos taksi habis 27ribu (seharusnya cuma 23ribu dari harga agro, tapi si sopir taksi minta nambah 5rb). Nyampek di kos segera kami sholat dzuhur, dan langsung meluncur makan siang sekaligus melepas lelah di Café Cinnamon dekat kos nya Indah. Tempatnya lumayan asyik, kebetulan kami dapat tempat dibagian dalam yang mirip kayak kamar. Kayaknya dulu tempat ini bekas rumah yang disulap jadi café.

Sore kami mengambil sepeda motor dari tempat persewaan sebagai kendaraan jalan-jalan kami selama di Jogja. Biaya penyewaan sepeda 50ribu/hari. Dan 2 helm 5rb. Kami hanya menyewa satu sepeda saja, karena satunya pinjaman dari teman kami yang lain namanya Ovarin. Dia dulu teman satu angakatan saya juga. Jadi teman saya yang lanjut S2 ini ada si Indah dan Ovarin. Tapi sayangnya ovarin nggak bisa nemeni kita jalan2 karena HP barunya error dan harus dibawa ke Service Center, jadi terpaksa dia pulkam ke Sidoarjo dan menyediakan sepeda motornya untuk dipinjem. Sedih juga sih karena nggak rame lagi padahal rencana kita mau jadikan dia tour guide kami, tapi hikmahnya kita nggak usah nyewa 2 sepeda motor jadi hemat deh.. Thank You ovarine #hugandkiss.

Malamnya kami makan ayam geprak, terdengar asing di telinga, tapi patut di coba. Kami berempat berangkat bareng Arin (teman kuliahnya Indah).  Baru tahu maksud ayam geprak ini ternyata ayam goreng tepung, ambil lombok yang disediakan baru deh dikasihkan ke penjual untuk mengulek jumlah Lombok dan sambil geprak ayamnya. Plus ada kuah kuning yang khas (nggak tahu apa namanya) dan nasi boleh ambil sendiri (cocok yang porsi makannya banyak)

Berhubung saya merasa sedikit masuk angin dan nggak nafsu makan, saya minta dibungkus aja untuk dibawa pulang, makan di kos. Saya hanya memesan teh hangat. Dan mencicipi kuah kuning punya teman saya, dan rasany huek (pengen muntah) karena terlalu manis. Emang bukan makanan Jogja kalau nggak manis. Dan kuah itu nggak disentuh oleh Inoko dan Hernita. Terus, teman saya kepedesan padahal ambil Lombok nggak sebanyak Arin. Mungkin karena ada tambahan sisa ulekan Lombok sebelumnya, apes banget tuh yang dapat bekas ulekannya Arin. Kalau nggak salah dia ngambil 10 lombok :D hehehe..

Kenyang, kami langsung meluncur ke Taman Lampion tanpa Arin, karena dia mau lanjut ngerjain Thesis. Perjalanan kesana, cukup lancar nggak macet blas, ini yang bikin saya cinta dengan Jogja. Padahal kalau di Surabaya, saat itu termasuk jam sibuk karena banyak orang pulang kerja. Sekilas Taman Lampion ini mirip BNS di Malang. Tiket masuk kena 15ribu saat hari libur dan weekend (jum’at, sabtu, dan ahad). Hari biasa 10ribu. Aneka lampu hias disini cantik-cantik, jadi pengen narsis.

We Are Here Now

Jamilahs Bond Beraksi


Pohon Lampu

Capek muter2 dan bernarsis ria, kami duduk di tangga depan museum. Tiba-tiba lampu mati, untung aja ada disekitar kami ada penerangan dari lampu hias di skuter dan becak mini. Nggak bisa bayangin orang-orang yang lagi di masuk di wahana rumah hantu saat lampu mati #scream. Habis itu, pulang ke kos, sholat isya, makan (khusus saya), terus curhat tentang women secret antara kami sampai tengah malam :D kebanyakan saya yang cerita aslinya #halah

DAY 2 (Jum’at, 30 Mei 2014)
Alhamdulillah nggak telat subuhan, walau malamnya kami begadang. Terus leyeh-leyeh antri buat mandi, habis itu cus kami nyari sarapan jam setengah 9 (sarapan model apa ini?). Untung depan kos nya Indah ada warung makan, jadi kita nggak repot pergi jauh nyari makan. Berhubung makanan jogja itu manis, jadi mau nggak mau saya harus mencicipi sedikit kuah yg tersedia. Ambil nasi sendiri sebagai orang pertama, rasanya itu aneh sendiri, saat teman-teman malah ambil nasi dikit banget. Separuh porsi saya. WHAT??? Padahal saya ngerasa porsi saya ini nggak banyak. Sampai saya dilihatin sama mas-mas gitu, asli bikin malu :D . Nasi seporsi (sayur+lauk), krupuk dan teh hangat cuma habis 6500. Murah gilaa, nggak salah banyak orang liburan ke jogja karena disamping banyak tempat wisata makanannya murah meriah.

Hari ini kami berencana ke Taman Sari, Keraton, terus lanjut ke Pantai  Parang Tritis. Sebelumnya kami mampir dulu ke kampus UGM, karena Indah mau ngumpulin tugas kuliahnya. Indah sebagai tour guide kami, agak sedikit kebingungan lokasi Taman Sari, karena sudah lama nggak ke tempat ini. Tanya-tanya orang, akhirnya sampai juga di Taman sari dengan membayar tiket masuk 5ribu. Sejarah tentang Taman Sari ini bisa dilihat disini.

Kolam Taman Sari Tempat Mandi Para Istri Raja

Ada yang dipenjara hehehe...
*Konon dari atas tempat inilah sang Raja memilih istri yang akan dia tiduri nanti malam dengan melempar bunga ke kolam

Kolam bagian dalam

Vandalisme.
Moga itu para pelaku cepat tobat. Cagar budaya kok dicorat coret

Jadi Juru Foto Dadakan

Puas muter-muter di Taman Sari, kita mau nyari masjid bawah tanah, nggak tahunya malah keblasan sampai ke pintu keluar. Seharusnya kita belok kiri saat ada pertigaan nanjak keatas. Akhirnya kami balik lagi walau aslinya saya capek banget. Tapi  rasa capek saya terbayar dengan keunikan bekas masjid bawah tanah itu.

Habis dari taman sari kami langsung pergi ke keraton, sampai di parkiran, malah dikasih tahu juru parkir kalau keraton mau tutup. Akhirnya kami sepakat untuk makan di House of Raminten. Sekaligus saya ingin membuktikan kebenaran hasil googling semalam. Ceritanya semalam habis dari Taman Lampion, Inoko dan Hernita pengen nyari softdrink dan diantarlah ke Mirota Market (belanja disini kata Indah lebih murah dr si alfa atau si domar). Membuat saya penasaran tentang si Mirota ini.
“Ndah, kamu tahu yang punya Mirota ini siapa?”
“Yang Punya Mirota itu benc*ng fit”
What??? Saya baru tahu info ini, nggak langsung percaya, saya langsung googling saat itu juga. Dan mendaratlah di salah satu thread di Kaskus yang bahas hal ini. Oh..Thanks to Kaskuser yang kayak detektif dadakan :D  Kerennya walau si pemilik itu benc*ng, dia punya banyak usaha, mulai dari mirota batik, mirota minimarket, mirota kampus (minimarket daerah UGM), Mirota Bakery, dan Rumah Makan Raminten. Nama mirota sendiri konon diambil dari usaha orang tua Hamzah (nama asli pemilik Mirota) yang jualan MInuman ROti TAwar. Ada info yang bikin saya tambah bikin kaget, banyak kaskusker yang bilang rata-rata pekerja di Mirota yang laki-laki itu seorang G. Karena itulah saya penasaran banget pengen makan di Raminten, untuk sekedar membutikan omongan mereka. Hehehehe…

Sampai di House of Raminten, kami nggak bisa langsung duduk, harus antri dulu. Loh segini terkenalnya ini rumah makan? Akhirnya kami memutuskan untuk sholat dzuhur dulu, tanya ke mbak resepsionis, kalau mushola di lantai 3. Alamak, betapa terkejutnya saya, miris liat musholanya, penerangan yang nggak oke, terus deket ruang ganti karyawan laki-laki. Bener2 harus kuat iman, saat si mas-mas ganteng itu harus dandan necis untuk bekerja ganti shift. Apalagi bau parfum mereka yang cowok banget (walau sedikit diragukan kejantanan mereka hehehe).

Habis sholat, Alhamdulillah dua teman saya yang duluan selesai sholat sudah dapat tempat duduk. Saat menunggu pesanan, saya mengamati semua pegawai mereka, dan hati kecil saya bilang hampir 90% pegawai disana kalau G. Mungkin karena naluri perempuan kali ya, jadi saya bisa merasakan itu, bahkan saya punya beberapa teman di facebook yang G walau nggak pernah pernah ketemu, terlihat dari cara dia berpose, serta mata dan bibirnya, Rasanya nggak rela klo mereka itu beneran G. Jadinya kan stok cowok keceh di dunia mulai menipis, padahal saya masih single #nangis darah. Terus, kenapa juga itu mbak2 pramusaji pake kemben terbuka, kenapa nggak pake baju kebaya aja? Kata salah satu teman saya, nggak enak banget dilihat, mending kalo mbaknya bodinya bagus, lah ini si kemben kayak kedodoran di tubuhnyanya. Apa buat menarik si mas pramusaji yang G biar back to the right path? Who knows? Hehehe… Sekitar 15 menit, semua pesanan kami terhidang di meja, nggak lupa kebiasan buat incip-incip pesanan masing-masing hehehe.. Dan saya sendiri memesan Cap Cay. Because i love it so much.
Narsis Depan Cermin

Cap Cay
Kenyang, dan puas ngobrol disana, kami langsung siap-siap ke Parangtritis. Mendekati pantai angin mulai berhempus dengan kencang, sedikit takut aslinya, membayangkan kalau tiba-tiba sepeda yang kami kendarai jatuh karena angin. Saat saya cerita ini ke teman2 mereka malah ketawa dan mengatai saya terlalu parno :D
Numpang sholat Ashar di salah satu tempat bilas air disana, dan cus kita langsung menuju ke pantai Parangtritis. Finally, I can revisit after ten years. Andai saya bawa baju ganti lengkap, pasti saya sudah basah-basahan disana, tapi sayang saya hanya bawa ganti celana, jadi cuma bisa kecek-kecek aja #cry.

Gaya Levitasi yang gagal :D
Kumat Narsis

Gaya Bebek :D

Puas basah-basahan main air kami langsung bilas celana dan pulang.Terus mampir sholat magrib di masjid pantai Depok Yang terkenal akan hidangan seafood. Sayang nggak kelihatan pantainya soalnya keadaan sekitar sudah gelap. Kelaparan kami mampir ke salah satu bakso di pinggir jalan. Dan saya membaca motto depot bakso yang cukup menggelitik, secara garis besar dan seingat saya kayak gini
  • Jangan memesan bakso kami jika anda tidak mampu menghabiskannya, karena itu mubadzir dan temannya setan.
  • Jangan beritahu teman anda, jika tidak puas dengan bakso kami. Beritahu kami sebagai perbaikan dimasa depan.
  • Jangan beritahu kami, jika puas dengan bakso kami. Beritahu teman anda. Karena dapat memperpanjang kelangsungan hidup kami yang pengangguran.

Selesai makan bakso, sialnya kami terjebak macet di pusat kota. Entah ada acara apa, pokoknya banyak orang naik sepeda mulai dari anak-anak, tua, muda, bahkan bule. Sepertinya mereka akan berkumpul menuju ke suatu tempat. Jarak dari pusat kota ke kosnya indah yang dapat ditempuh dalam 30 menit menjadi 1 jam. Nyampek kos, semua teman pada mandi, saya yang aslinya males mandi malam, jadi ikutan mandi, sholat isya terus pengennya langsung tidur soalnya besok pagi-pagi kami harus ke Gunung Merapi biar nggak panas. Tapi yang terjadi kami malah curhat2an kembali. Ternyata kami memang makhluk Tuhan yang paling seksi yang paling doyang ngobrol. #halah

Kelanjutan ceritanya bisa baca disini. Capek juga nulis sebanyak ini ternyata. Hehehe...