Liburan ke Jogja Part II

Selasa, Juli 29, 2014
DAY 3 (Sabtu, 31 Mei 2014)

Ini adalah kelanjutan dari cerita perjalanan saya ke jogja. Bagi yang belum membaca silahkan baca dulu disini. Lama banget jeda nulisnya dengan part 1 hehehe...

Hari ketiga di Jogja kami berencana wisata ke Vulkano Tour gunung Merapi. Awalnya pengen berangkat jam 6 pagi tapi tetep aja molor, dan baru bisa berangkat jam setengah 9. Kami berenam saya, Hernita, Iko, Indah, Arin dan mbk Yohana (kakak angkatan saat kuliah S1 dulu lanjut S2 di UGM) berangkat naik sepeda dari deresan 1 langsung ke gunung Merapi butuh sekitar 1 jam lebih. Jalanan cukup lancar walau banyak juga truk besar yang lewat, saat masuk ke kawasan pegunungan hawa dingin mulai terasa walau agak panas cuacanya. Saat udah di wilayah pegunungan yang sedikit menanjak tiba2 sepeda yang saya tumpangi bareng indah bannya bocor. Terpaksa kami harus menambalnya dulu. Dan Alhamdulillah sekitar 10 meter kemudian ada bengkel motor dan mobil, jadi kita bisa nambal disana. Tiket masuk ke tempat wisata ini totalnya 6500. Dengan rincian karcis masuk taman nasional 1500, jasa pengelolaan volcano tour 3000, dan karcis sepeda 2000.

Tiket Masuk Wisata Vulkano Tour
Kalau boleh jujur, saya nggak terlalu nafsu ikutan Vulkano Tour ini. Karena apa? Karena uang di dompet saya mulai menipis. :D Dan saya tahu sewa mobil jeep itu nggak murah, sedikit berharap nggak ada Jeep kosong saat Indah dan Inoko survey harga sewa. Tapi nyatanya tersisa 1 Jeep dan ready untuk di sewakan dengan harga 450ribu untuk tour 1. Akhirnya kita semua ke pos penyewaan.

Awalnya mereka menolak kami berenam, karena 1 jeep hanya muat 5 orang dan menyarankan untuk menyewa 2 Jeep. What? Tambah mahal aja dong. Udah di rayu dengan manis manja, sampai memohon2 dengan bersujud (lebay) bapak itu tetep aja pada pendiriannya. Ahirnya kita eyel2an bentar siapa yang berhak naik. Indah dan Arin memilih untuk nggak naik, karena sudah pernah. Saat kita eyel2an, eh itu bapak berubah sikap dan memperbolehkan kita berenam buat naik Jeep bareng. Mungkin kasihan dengan kami. Yaelah, tahu gitu kita sejak awal eyel2an pake jambak2an aja sekalian, biar langsung dibolehin naik berenam :D

Dipandu dengan mas Paidi yang ganteng biasa dipanggil Pay (bukan nama aslinya, nama beken aja) kami mengeliling gunung merapi, waduh asli horror banget wisata ini, jalan sempit, dan kiri kanan itu jurang. Nggak bisa bayangi klo jatuh dari sana. Berkali2 kita yang cewek teriak2 nggak jelas. Moga telinga mas Pay nggak budheg setelah mengantar kami.

Monumen Sisa Hartaku
Lokasi pertama yang kami kunjungi itu Museum Sisa Hartaku di desa Cangkringan. Dari peninggalan ini, saya bisa membayangkan dahsyatnya erupsi Merapi saat tahun 2010 lalu, banyak peninggalan benda logam dan kaca seperti uang, sepeda, botol, piagam, televisi, dll yang meleleh. Pasti panas banget saat itu #cry.

Foto Depan Museum Sisa Hartaku
Televisi yang meleleh

Uang Logam dan Botol Kaca Sampe Meleleh.
Uap Belerang
Kedua wisata uap belerang, saya lupa namanya apa. Kita berhenti sejenak, terus disuruh naik keatas bukit buat liat pemandangan gunung merapi. Aseli bagus banget disini, nggak kalah sama pemandangan diluar negeri, semuanya kelihatan hijau. Turun dari bukit baru diberitahu mas Pay  kalau dibawah bukit dan sekitarnya ada lubang-lubang uap belerang yang panas. tahu gitu kan tadi sekalian bawa telur mentah terus dimasak diatas salah satu lubang uap belerang. Hehehe..
Gunung Merapi dari atas bukit

Bunker Kaliadem
Lokasi selanjutnya kita ke Bunker (ruang bawa tanah), bunker sendiri pada zaman peperangan sering dijadikan tempat persembunyian dari bahaya rudal, bom, dan sebagaianya. Dan disini saat erupsi merapi 2006 ada dua orang relawan yang meninggal disini. Satu ditemukan di kamar mandi, satunya dekat pintu masuk. Hiii...merinding banget saat dengar penjelasan mas Pay. Saat melongok ke dalam kamar mandi, tiba2 saya membayangkan ada orang disana. ruang di dalam bunker gelap dan lembab, untuk melihatnya kami menyewa senter yang disediakan di pintu masuk dengan membayar seikhlasnya.

Bunker di Dusun Kaliadem

foto di atas Bunker 

Bersama mas Pay. Disini mas Pay nggak kelihatan keceh

Batu alien
Lokasi wisata terakhir batu Alien, batu ini katanya tiba-tiba muncul sejak erupsi merapi. makanya disebut batu alien karena nggak jelas kapan datangnya. Dan kebetulannya lagi, kalau diamati dengan seksama batu ini mirp wajah manusia yang menangis. Awalnya saya nggak terlalu memperhatikan,dan nggak paham mana mata, kepala, hidung, telinga, dan mulutnya karena saking besarnya. Tapi setelah di foto dan diperlihatkan baru terlihat dengan jelas bentuk batu ini.

Foto bareng batu Alien
Habis kelar wisata vulkano tour, kita sholat dzuhur di mushola disana, dan memutuskan melanjutkan perjalanan ke air terjun Kaliurang. Indah yang nggak enak badan meminta Hernita untuk menggantikan nyetir. Padahal Indah itu patner saya. Sejak awal saya cerita kalau nggak berani ditanjakan. Makanya Indah minta tolong Hernita dan saya dibonceng iko. Jujur, saya itu agak trauma dengan jalan tanjakan. Soalnya waktu kelas 2 SD saya pernah nginep di Villa Pak De saya di Bogor. Jadi ceritanya ada jalan tanjakan khusus yang lumayan tinggi di samping jalan raya untuk mau masuk ke Villa. Saya naik sepeda (belum terlalu mahir bersepeda) milik sepupu mencoba keluar dari gerbang Villa meluncur kebawah, jatuh berguling. Sejak itu lah saya agak ngeri klo bersepeda di tanjakan. Waktu dibonceng sepeda motor oleh mas sepupu saat ke bromo pun tangan saya berkeringat, padahal udaranya dingin. Sedikit merasa jadi beban karena dibonceng terus sejak dari kos.

Nyampek kaliurang, ternyata air terjunnya kering nggak ngalir #cry. Padahal berharap bisa pamer foto dibawah air terjun. Terakhir main ke air terjun saat kelas 3 SMA. Jadi saya males mau narsis (dan nggak ambil foto sama sekali terlanjur kecewa), akhirnya kita berempat duduk2 aja sambil ngobrol rencana selanjutnya. Sambil makan2 snack yang kita bawa.

Rencana awal kami berempat (saya, Indah, Iko, dan Hernita) malamnya kami mau ikutan wisata musem di Night at The Museum di Museum Sandi. Tapi Indah malah nggak jadi ikut karena capek katanya, dan saya sejak awal pengen ngerasain suasana Malioboro di malam hari (soalnya ini malam terakhir di Jogja), saya pun menolak ikut. Jadi fix hanya Iko dan Hernita yang ikut, sekalian biar kita menghemat duit biar nggak nyewa sepeda motor lagi, jadi Iko dan Hernita bisa kesana naik sepedanya Ovarin,  indah main di penginapan kami. Sedangkan saya jalan-jalan ke Malioboro sendiri.

Puas ngobrol dan foto2 (khusus mereka) kita kelaparan, dan diusulkan makan di Warung Raminten di Kaliurang. Disini saya mencoba memberanikan bonceng iko pake sepeda matic dari Air Terjun Kaliurang. Kebetulan merk sepeda matic itu kayak sepeda adik saya di rumah (jarang pake matic aslinya, lebih suka yang manual). Saya janjian ke Iko, kalau saya merasa takut gantian dia yang nyetir. Awalnya sedikit grogi, lama kelamaan saya menikmati perjalanan pulang ini. Ternyata tanjakan jalannya nggak seseram yang saya bayangkan. Merasa kalau trauma saya sedikit berkurang, dan sedikit ketagihan pake matic di jalan pegunungan.

Suasannya Warung Raminten asyik banget, beda dengan House of Raminten yang sumpek. Sampe mereka bertiga yang tinggal di Jogja kepikiran pengen ngerjain Thesis disana. Cuma yang bikin agak seram, itu banyak patung orang jawa di pintu masuk, ngerasa mistis aja. Dasar saya aja yang penakut. Sesi ini nggak ada foto2 kelupaan saking laparnya. Hehehe..
Brosur di ambil dari House of Raminten
Pulang, kita langsung ambil barang yang sudah kita packing sebelum ke Merapi. Jadi tinggal ambil barang terus langsung menuju ke Indonesia Hotel. Saya dan Iko di tinggal di penginapan, sedangkan Hernita dan Indah mengembalikan sepeda. Jadi nanti saat mereka kembali ke Hotel hanya membawa 1 sepeda. Mandi, langsung dandan yang agak cantik dan siap berpetualangan ke Malioboro. Siapa tahu dapat kenalan orang Jogja #ngarep. Bahkan sampai dikomentari teman, muka saya jadi kayak kena efek kamera 360 gara2 pake lipstik warna peach agak ke orange. Hihihi, nasib punya lipstik warna peach, dikatain editan kamera 360.

Setelah mereka berdua berangkat, saya pun bersiap-siap untuk berangkat. Tinggal Indah sendiri yang di kamar sambil baca buku bahan Thesisnya. Sedikit was-was juga berpetualangan sendiri di malam minggu di tempat yang nggak dikenal. Tujuan pertama lansung ke Mall Malioboro nyari kaos Dagadu, karena sudah sejak SD ngidam kaos ini. Ngiri sama teman yang waktu SD mampu beli kaos Dagadu Aseli. Sekalian dititipi teman juga buat belikan kaos ini. Dapat kaos, saya nggak langsung pulang, tapi menjelajah kios di emperan jalan mencoba menawar kaos buat oleh2. Ternyata harganya sama aja, katanya itu sudah aturannya dagang kaos disana. Berhenti di salah satu toko batik, ada penari laki-laki yang asyik banget narinya, lumayan cakep juga. Gayanya lucu plus pakaiannya ketat lagi. 100% saya bilang kalo dia seorang G. Sampai habis tiga lagu saya nggak pengen beranjak dari sana saking lucunya. Dan kerennya itu penari bantuin tukang becak yang mau lewat jalan disana. Soalnya itu jalan emang buat becak dan dokar. Waduh, mas-mas, andai kamu normal, aku mau daftar jadi calon istrimu. Hehehe..

Perjalanan masih panjang, saya terus jalan ke arah 0 km. Sepanjang jalan, hati merana bin miris. Saat dipinggir jalan banyak yang bergandengan tangan, sedangkan saya bergandengan dengan HP. Mana sempat ditawari beli bunga lagi sama orang, bilang bisa buat pacarnya. Nggak tahu apa kalo saya nggak ada gandengan #sewot.

Deket lampu merah saya liat komunitas suku Papua atau Ambon (nggak yakin suku apa) yang pamer tarian kebudayaan mereka. Cukup terhibur dengan tariannya, walau nggak ngerti blas nyanyian mereka. Terus ada pagelaran budaya juga di sebrangnya, lupa antara pagelaran wayang atau srimulat. Hehehe.. Balik pulang karena sudah jam 9 lebih. Baru terasa kaki saya capek banget di depan pasar Bering Harjo, padahal jalannya masih panjang. Tetep di paksa jalan juga, akhirnya nyampek penginapan diiringi tragedi lebay. Karena saat buka pintu kamar terkunci, saya ketok juga nggak ada sahutan dari Indah, padahal ada sandal di luar. Sempat berfikir, jangan2 Indah sudah pulang. Terus Iko dan Hernita jalan2 sendiri ke Malioboro. Saya ditinggal sendiri, dan sedikit panik. Telepon Indah, nggak nyambung, telepon hernita mereka katanya masih di museum. Jadi keingat cerita di blog pengalaman orang yang pernah terkunci dari dalam saat nginap di Indonesia Hotel. Kalo beneran terjadi saya terkunci dari luar. Tiba2 saat saya balik badan, muncul wajah Indah dibalik tirai kamar yang bikin saya kaget plus senang. Ternyata itu pintu kamarnya harus agak di dorong sedikit. Hehehe…

Besoknya hari Ahad, kami full seharian beli oleh-oleh, rencana pengen belanja-belanji ke pasar Beringharjo dulu. Jam setengah 10 Indah datang, sepedanya dititipkan ke penginapan kami. Kami beli kaos di pinggir emperan toko rata2 kaos disana dibandrol 30-35 ribu. Habis itu ke Mall Malioboro buat ambil Uang di ATM. Keluar mall, naik becak minta di antarkan ke Bakpia Pathok 25 (katanya yang terkenal merk ini), dan diantar ke pasar Beringharjo, awalnya minta 15ribu, kita tawar jadi 10rb dan mau.. Eh, sama bapaknya malah diturunkan ke toko lain, bilang ini anak perusahaannya, dan harga lebih murah. Tapi kami tetap ngeyel minta diantar kesana. Akhirnya si bapak mau ngantarkan kami yang jarak antara toko itu dengan bakpia pathok 25 sekitar 10 meter. Biuh, rame banget toko ini, akhirnya kami pilih2, sekali lagi saya dititipi teman beli 3 kotak. Awalnya dia pesan 2 eh, malah nambah, mana nitip barang nggak dikasih uang dulu lagi. Kapok deh klo liburan nggak mau lagi dititipi, yang ada malah repot bawa banyak barang dan uang sendiri terpakai buat  nalangin.

Sebelum belanja kami ngisi tenaga dulu, sekalian makan siang di food court lantai paling atas pasar. Dan sebagai wujud syukur Iko karena sisa uang kenaikan gaji sudah di transfer, dia mentraktir kami makan siang, alhamdulillah bisa menghemat hehehe...
Semoga rezekinya tambah banyak  dan barokah ya ko.

Puas belanja di beringharjo, kami segera pulang, saya sempat terpisah dengan mereka, karena mencari kaos anak buat teman kecil saya mbak Ayu dan Arya yang selalu menemani saya jaga toko. Keluar dari pasar malah ada pawai persatuan olah raga pencak silat dan bela diri. Banyak banyak nama persatuannya, yang sempat saya ingat ada Merpati Putih, soalnya teman saya ada yang pernah ikut Merpati Putih. Nyebrang jalan, kami naik becak buat diantar ke penginapan ambil barang dan ke Stasiun Tugu. Depan penginapan kami saling berpamitan, Indah pulang ke Kos dengan sepedanya.

Ternyata banyak banget barang belanjaan kami. Setengah becak sendiri, karena saya duduk dengan barang2 tersebut. Iko dan Herita naik becak satunya. Nyampek stasiun langsung hujan deras, kami memilih duduk dalam mushola sekalian sholat Ashar dan tak lupa merapikan belanjaan kami. Sialnya, saya baru sadar kalau oleh-oleh kaos buat adik saya ketinggalan di salah satu toko baju anak. Akhirnya saya sms indah buat minta tolong buat ambil kaos itu. Dan Alhamdulillah kaosnya disimpen penjual dan bisa langsung dipaketin ke Surabaya. Makasih banyak ya ndah.

Hujan udah agak terang, kami duduk di peron stasiun, sambil beli makanan buat makan malam di kereta. Saat itu ada gerombolan bule2 yang entah datang dari mana. Ada pemandangan menarik dari salah satu bule itu. Seorang bule laki-laki memisahkan diri dari rombongannya. Ternyata dia hendak merokok. Saya sendiri nggak suka dengan perokok, tapi takjub saat liat bule itu merokok. Cara merokoknya ituloh sumpah sopan banget. Dia buang asap rokoknya keatas udara, mungkin biar nggak kena orang disekitarnya kali ya. Eh, tiba-tiba disampingnya datang seorang bapak yang juga ngerokok. Dan buang asapnya sembarang padahal ada ibu-ibu gendong anak kecil lewat di depannya. Saya seolah-olah melihat bapak itu mengajarkan ke bule agar buang asap rokoknya bisa sembarangan, nggak perlu buang keatas udara. Soalnya waktu si bapak merokok, sedikit senyum menertawakan kelakuan si bule. #miris

Menaiki Sancaka kembali, kami duduk terpisah soalnya waktu booking sisa kursi yang kosong hanya sedikit. Dan saya duduk bersebelahan dengan mas-mas asal Magelang. Awalnya saya berharap dia turun sebelum stasiun Gubeng biar bisa duduk bersandar di Jendela. Ternyata tujuan kita sama. Setelah ngobrol2 sedikit, saya baru tahu dia kuliah sambil kerja di Surabaya. Dan kita sama-sama satu Almamater, Unair. Sempit sekali kan dunia ini. Saya menebak dia masih semester 6an, dan terlihat keren bagi saya karena masih muda bisa kuliah sambil kerja. . Ketika saya tanya angkatan berapa dan jujur kalau saya juga lulusan Unair, mas ini ngaku angkatan 2005. Loh jadi bingung, jadi dia lebih tua dari saya? Ternyata mas ini kuliah ambil S2. OMG, kirain lebih tua saya, soalnya wajah nya itu unyu banget, kayak masih umur 22 atauh 23 gitu. Untung tadi nggak keceplosan bilang adek. Hehehe..

Ngobrol2 dia tanya tentang angkatan dan jurusan saya, setelah menyebutkan angkatan dan jurusan saya, dia jadi tanya "kenal namanya Ita?". Saya menjawab "Indah Masitah ya?". "Nggak tahu nama lengkapnya, tapi dia dipanggil Ita di Kantor, anak Gresik dan jurusannya sama kayak mbknya". "Wah iya tahu, itu teman angkatan saya, ini dia lagi nitip dibelikan oleh-oleh. Nanti boleh sekalian nitip kasihkan dia nggak mas? ". Dan mas itu seperti nggak percaya gitu, takut salah orang, tapi kalo saya cerita tentang ciri-ciri si Ita ini, betul katanya.

Akhirnya saya sms Ita, tanya kenal mas ini (nyebutin nama) nggak? Cerita klo saya lagi sebangku di kereta. Dan berencana nitipkan oleh2 dia lewat mas ini daripada dipaketin kena biaya ongkos kirim. Beberapa menit kemudian, Ita langsung menelpon dengan hebohnya dia bertanya kok bisa sebangku dengan mas itu. Saya hanya bisa tertawa aja dan bilang nggak tahu, saya langsung kasihkan HP saya ke mas itu, biar langsung ngobrol dengan Ita. Baru deh mas itu percaya kalau Ita yang dia maksud itu orangnya sama. See...ternyata dunia ini sempit banget kan. Ini pengalaman ketiga yang bahas tentang hal "dunia ini sempit" selama liburan di Jogja.

Nyampe Surabaya udah jam 11 malam lebih, terpaksa saya pulang naik Taksi. Padahal kalau datang pagi, saya bisa menghemat dengan naik angkot. Puas, bisa liburan di Jogja selama 4 hari dan bisa mengunjungi wisata pantai, budaya, pegunungan, dan belanja. Inilah yang menjadi daya tarik Jogja, karena berbagai wisata ada di kota ini.

Kata teman saya Niza yang seorang Penulis "Perjalanan itu mendekatkan bukan menjauhkan." (dikutip dari tulisannya di Backpacker Story Cup Cakes). Saya mengamini kalimat itu. Bagaimana tidak, saya jadi semakin dekat dengan teman saya, bisa cerita banyak sebelum tidur. Dan teman saya yang sholatnya bolong-bolong, ngaku kalau selama liburan dia bisa full sholat 5 waktu, ketularan teman katanya, jadi semakin dekat dengan Allah kan?

Maka selagi masih single dan muda, alangkah baiknya teman-teman semua bisa backpacker ke segala penjuru kota atau negeri. Cita-cita saya sendiri, pengen bisa backpacker ke Eropa. Dan nggak tahu kenapa, hati kecil saya bilang someday i can go to Europe. Tolong di Amiinkan ya teman. Terima Kasih ^_^

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Mari kita menjalin pertemanan dengan meninggalkan komentar Anda di postingan ini. EmoticonEmoticon